Pagi 1983,hari pertama masuk Sekolah, bangun pagi di dinginnya Desa Sidemen 5 pagi, malas-malas membuka mata, menguap, dan setengah mengantuk menuju dapur, Ibu dan Bibi sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi dan menanak nasi. "Delem" anjing hitam keluarga tampak terlelap, mata nya kadang setengah terbuka tapi terlalu malas untuk memperdulikan aktifitas pagi yang mulai sibuk. Kakek tampak masuk pekarangan rumah, berjubah selimut merah seperti biasanya, mencoba melawan dingin pagi itu,ia mungkin sudah bangun jam 4 tadi lalu pergi ke sungai kecil di depan rumah kami, untuk buang hajat. Bapak tampak sibuk mengelap Vespa Super warna biru muda, dan siap dipanaskan mesinnya. Aku sibuk memperhatikan kesibukan pagi dimana aku pertama kali harus bangun pagi dan siap-siap berangkat sekolah, Ibu sibuk membuat kopi dan teh serta rebus ubi untuk sarapan kami. Bibi masih sibuk dengan bambu meniup-niup tungku mempertahankan api ditungku tetap menyala. Kakak ku tampak sibuk menyapu lantai rumah dan pekarangan dibantu nenek. Suara sapu beradu dengan tanah dan sampah, suara khas yang selalu aku dengar dari kamar manakala pagi menjelang, tapi kini aku melihat dalam kebingunganku dengan semua rutinitas pagi buta. Ibu tampak bergegas, menghidangkan sarapan pagi, Kakek tampak tergopoh menyambut kopi panas dan rebus ubi yang diberikan ibu kepadanya. Sambil duduk masih dengan selimut merah menutup badannya kakek tampak asyik menikmati sarapan paginya. Kopi panas dan ubi yang masih mengepulkan asap. Bapak juga tampak duduk di meja dekat dapur sambil menikmati sarapan. Dalam setengah kantuk ku sambil sesekali menganggu tidur "Delem" dibawah bale-bale di dapur, Ibu menyuruhku mengambil teh panas dan ubi rebus untuk sarapan, Ibu juga memanggil kakak ku, " Cepat makan sarapanmu...lalu sana mandi, hari ini jam 7 pagi upacara bendera di sekolah" ucap Ibu sambil menyiapkan wadah untuk nasi yang setengah matang yang siap dituang bibi dari panci tanah yang sudah hitam dan kusam.Sambil menikmati teh manis dan ubi rebus bersama kakak, aku memperhatikan asap mengepul memenuhi ruang dapur. Beras setengah matang yang dituang ke wadh tadi, oleh bibi diaduk dan ditambhkan air. Ibu lalu mengatakan kepada bibi untuk menanak nasi itu, sementara ibu pergi bersiap untuk mandi. Bapak tampak keluar dari kamar mandi, tepatnya sebuah ruang terbuka ditembok tanpa atap, dan menggunakan air pancuran yang diambil dari sumber air diatas bukit dekat rumah. Bapak lalu masuk dapur mengambil secentong air putih untuk menyikat gigi di halaman depan, sambil sesekali memprhatikan orang berlalu lalang di jalan depan rumah, orang-orang yang siap berangkat sekolah maupun pulang dan pergi ke pasar yang berada di selatan desa, 1 kilometer dari rumah kami. " Delem" beringsut lalu meregangkan badanya terbagun dari tidurnya, aku melemparinya ibu, dengan masih malas-malas "Delem"mengendus ubi yang kulempar lalu melahapnya, kini giliran kakak berlari mandi ketika ibu sudah tampak keluar dari kamar mandi dengan kepala tertutup handuk yang melilit kepalanya. Kembali ibu memerintahkan aku yang masih bermain-main dengan "Delem" , untuk bergegas. Ah...aku malas bathinku, aku malas mandi...dingin, aku malas sekolah. Kakek juga terdengar memanggil menyuruhku bergegas pula. Aku masih saja terdiam, Bapak aku lihat sudah rapi dengan safari biru, sepatu kulitnya mengkilap, rambutnya disisir rapi.
Seiring menderu suara Vespa Super Bapak, asap kelabu membumbung memenuhi halaman rumah dan aroma khas asap yang mengepul dari knalpot bersuara nyaringnya, aku berlari cepat menuju kamar mandi, matahari makin terang ketika aku keluar, dan seiring menjauhnya suara Vespa Super Bapak, artinya Bapak sudah berangkat menuju Kota Karangasem. Ibu yang sudah berseragam lengkap siap berangkat mengajar, dengan cekatan mengelap rambut dan badanku dari sisa-sisa air mandi tadi, seragam merah putih dasi dan topi sudah disiapkan Ibu untuk ku, umurku baru 5 tahun, dan aku sebenarnya belum mau sekolah, aku masih lebih suka menghabiskan waktu dengan kakek ke kebun dan memberi pakan ayam-ayam peliharaanya. atau ikut dengan bibi berjualan keliling, menjual kain tenun dan macam-macam, tapi kata Ibu aku harus masuk sekolah tahun ini, mungkin karena dirumah aku cuma bermain-main saja, dan terkadang karena kesibukan kakek, nenek dan bibi, aku hanya bermain sendiri di rumah. Ibu lalu memerintahkan aku mengambil tas yang sudah berisi buku-buku tulis kosong, pensil dan penhapus yang ditaruh dalam kotak. Dasi menempel di leherku, topi sudah nagkring dikepala, aku mencuri-curi pandang mematut-matut diriku di jendela kaca kamar. Jam enam tigapuluh pagi, deru lalulalang kendaraan dan manusia menuju dan pulang dari pasar di selatan rumah menambah keramaian pagi. Kakaku sudah lama menghilang, dia sudah berangkat bersama teman-temannya, anak-anak di kampungku. Setelah Ibu permisi berangkat kepada Kakek dan nenek, ibupun bergegas mengajak ku melangkah sedikit memaksaku. Dengan berat hati aku melangkah di belakang ibu, Delem, anjing hitam kami mengikuti sampai batas kampung, tambah membuat aku ingin pulang kembali. Sesekali Ibu berhenti menunggu aku yang berjalan pelan sambil berceloteh, lalu menarik tanganku kembali agar aku berjalan lebih cepat.
Tiba di gerbang sekolah, akupun menghempaskan tanganku dari ibu, mencoba melepaskan tarikan Ibu yang mencoba memaksaku masuk melewati gerbang sekolah. Perutku mulas, keringat bercucuran, aku merasa hari ini tersiksa, dengan rutinintas baru yang tidak pernah terfikir. Ibu kembali mengomel memarahiku, dengan terpaksa, akupun masuk gerbang, dihalaman sekolah tampak berkumpul anak-anak yang memakai seragam, dasi dan topi seperti yang aku pakai, aku mencari sosok-sosok orang yang aku kenal disana, namun tak juga aku lihat sosok yang aku kenal.
Ibu menyuruhku mengikutinya,aku masuk keruangan dimana terlihat banyak teman-teman Ibu menggunakan batik seragam sama dengan ibu, batik biru Korpri. Terdengar ada yang bertanya dan mereka membahas tentang aku, sesekali Ibu tertawa dan diikuti derai tawa beberapa temannya. Mereka guru-guru di Sekolah tempatku menuntut ilmu nanti, Ibuku salah satu Guru di Sekolah Dasar Inpres itu, SD Inpres No. 2 Sindhu, Sidemen tepatnya, jika berjalan kaki dari rumah sekolah itu hanya berjarak 20 menit, dengan berjalan cepat. Mereka tertawa mungkin karena ibu menceritakan bagaimana dia berhasil walau dengan memaksa membawa aku ke sekolah untuk di daftarkan dan masuk sekolah pertama kalinya.
Setelah berepot-repot, dan riuh rendah persiapan upacara Bendera Senin Pagi, akupun akhirnya berada dibarisan anak-anak sebayaku, anak-anak Kelas satu SD, diantara 10 murid, hanya tampak aku dan 2 orang dibarisanku saja menggunakan Sepatu, sisanya hanya beralas sendal dan bahkan tanpa alas kaki.
Hari ini, tak banyak kegiatan belajar di Sekolah, kami para murid kelas satu hanya diajak menyanyi, dan perkenalan, diabsen, istirahat dan Pulang, aku paling suka jam istirahat karena banyak jajanan yang dijual di dekat sekolah, mulai dari bubur sambal, es, mainan dan lain-lain. Wah uang bekal dari kakek habis sudah aku belanjakan. Satu lima rupiahan dan satu pecahan 10 rupiah....aku suka jam istirahat. Kami hanya bermain-main saja, sekolah hari pertama menyenagkan tidak seperti yang aku bayangkan. Gurunya pun baik-baik. Ibu sesekali masuk ruangan kelasku mungkin hanya memastikan bahwa aku lulus percobaan masuk sekolah. Karena aku anak termuda diantara teman-teman sekolahku.
Aku pulang lebih dulu dari kakak, Bapak dan Ibu. Aku langsung mengganti baju, usai makan siang, aku menemui Kakek, bercerita tentang hari pertama sekolah.
Malam harinya, Ibu menyuruhku belajar berhitung, aku tidak suka berhitung, terkadang aku menangis karena dipaksa ibu untuk belajar berhitung. aku lebih suka menulis dan menggambar.
Suatu hari aku bilang ke ibu, " Ibu aku tidak mau pakai tas, aku tidak mau pakai sepatu?!!", " Kenapa tidak mau? Bukankah tasmu bagus, sepatumu bagus, masih baru pula !!" Ujar Ibu.
" Aku malu.."Ucapku...," Kenapa Malu, bukankah kao biasa kemana-mana bersepatu, bermainpun dulu kao bersepatu ?" kembali Ibu bertanya," Aku ingin sama dengan teman-temanku...pakai tas plastik hitam dan tak beralas kaki" Jawabku. Lalu ibu tersenyum, mencoba mengerti apa maksudku, Ibu bilang" Kamu sama dengan mereka, tapi kamu anak guru..." Ibu mengelus kepalaku, " Kamu harus menjadi contoh teman-temanmu, menjadi teladan mereka, nanti apa kata orang kalau kamu tak beralas kaki ke sekolah, tak punya tas untuk buku-bukumu, orang bilang, Anak Guru kok begitu penampilannya??!" Ujar ibu kembali. Aku tak mengerti maksud ibu, akupun kadang memaksa untuk ke sekolah dengan tas kresek hitam plastik dan tanpa alas kaki, kadang cuma pakai sandal. Tapi makin lama, makin aku mengerti, Aku Anak Guru, aku harus membuat Ibu dan Bapak bangga, karena mereka seorang Guru, teladan masyarakat.
Didedikasikan untuk: Ibu & Bapak Saya ( Seorang Guru Sekolah Dasar)
No comments:
Post a Comment