Musim Liburan 1985, Penerimaan rapor sudah usai, aku naik kelas. Dan adalah kesenangan tiada tara menyambut musim liburan. Dari sekolahpun kami sudah merencanakan bersama teman-teman permainan-permainan yang mangasyikan. Walau aku tak juara kelas tapi, aku tetap senang. Kakaku selalu juara kelas, dia kebanggan Ibu dan Bapak, karena pintar dan berprestasi di sekolah. Kami boleh tidur sampai larut malam karena esok libur kenaikan kelas sudah mulai, aku ikut mengobrol bersama Kakek, Bapak, ibu, nenek, paman-paman dan bibi-bibiku, kakak juga ikut, mengobrol seusai makan malam di teras rumah begitu mengasyikan, banyak cerita. Bapak bercerita tentang bagaimana keadaan kota, makanan-makanan enak, banyak toko-toko bagus, dan kendaraan berlalu lalang tak sesepi kampung kami, yang mungkin dilewati kendaraan hanya sekali dalam 5 jam, kadang sama sekali tak ada kendaraan lewat, Jalan kampungku masih tanah berbatu, walopun kampungku adalah jalur alternatif menuju dua kabupaten. Tapi entahlah kenapa tak kunjung diaspal juga..., memikirkan itu membuat aku tertidur dipangkuan nenek.
Ayam berkokok, pagi-pagi buta aku sudah bangun, tak bermalas-malas layaknya hari sekolah, pagi-pagi aku sudah ikut Kakek dan kakaku menuju sungai besar di barat rumah, kami akan membuang hajat dan mandi di sungai besar sekaligus berjalan-jalan pagi menghirup segarnya udara kampungku. Hamparan sawah, dan lapangan bola desa yang kami lewati, masih berselimut kabut, air-air embun membasahi kaki, namun memberikan kesegaran. Aku ingin bangun pagi tiap hari, agar bisa menikmati kedamaian dan keindahan desaku, ucapku dalam hati. Saat berjalan di areal lapangan bola desa, banyak anak-anak kecil teman kakakku dan juga teman-temanku ikut bergabung bersama kami, kakek tampak berjalan di depan, sesekali kami bersenda gurau dan berlarian dilapangan.

Suara deru air sudah kedengaran pertanda kami sudah cukup dektan dengan sungai, bening air sungai menyejukan mata, berkelok-kelok dari ketinggian tebing bagai ular raksasa. terbentang jembatan dari kawat melintang timur menuju barat sungai, sebagai alat penyebrangan satu-satunya bagi masyarakat di sebrang kampung kami jika air sungai bah. Menuju Sungai unda kami harus melewati satu sungai kecil bernama Telabah Busul dan jalanan yang terbuat dari bebatuan diantara hijau rimbun semak belukar.
Tak menunggu lama, kamipun mulai mencari tempat masing-masing untuk 'nongkrong' membuang hajat, sambil bermain air, kakek tampak bersembunyi menjongkok diantara bebatuan besar hitam bekas letusan gunung Agung, yang tampak menjulang dikejauhan. Gunung Agung memuntahkan amarahnya pada medio 1963, kampung kami tak rusak parah karena berada diantara bebukitan dan dipotong sungai besar, dari cerita nenek aku mendengar bagaimana lahar berjalan memerah membara ditonton ratusan warga saat melintasi sungai Unda ini.
Selesai membuang hajat dan membersihkan muka kami bersama kembali bersiap pulang, kakek sudah tampak mendahului dan berjalan jauh dari kami. Lenguh sapi dan gonggong anjing saat kami lewat diantara persawahan milik petani di desaku kami melangkah pulang, disambut hangat mataharai pagi.Tiba dirumah, pekerjaan pun menunggu, Ibu tampak sibuk di dapur bersama nenek dan bibi, kakek sudah tampak duduk diteras rumah sambil menikmati sraapan paginya, Bapak tampak lalulalang membersihkan rumah. Aku dan Kakak menghampiri bapak membantu mengepel dan merapikan rumah. Matahari makin tinggi, hari cukup siang, perut kamipun mulai keroncongan, aku berlari ke dapur meminta teh panas dari nenek, setelah kuselesaikan pekerjaanku membantu kakak dan bapak membersihkan rumah. Hari ini libur sekolah, kami semua berada di rumah, karena Ibu & Bapak adalah guru Sekolah Dasar. Libur panjang kenaikan kelas, selama satu bulan, ah sambil kunikmati sarapan pagiku aku sudah membayangkan hari-hari panjang untuk bermain.Tak berapa lama, serombongan anak-anak kampungku terdengar memanggil manggil kakak dan namaku, aku menghambur dari dapur menuju halaman, kakak tampak berdiri di teras rumah sambil tersenyum, nampak puluhan anak berdiri berjejer di depan rumah kami, sambil membawa bola. Akupun berteriak meminta izin kepada ibu yang masih sibuk di dapur, entah didengar atau tidak aku lalu berlari menghampir anak-anak itu, kakak juga tampak berjalan menghampiri mereka, tanpa menunggu lama, kami semua sudah berjalan beriringan menuju lapangan bola di depan rumahku, melewati jembatan dari sebatang pohon menyebrangi sungai kecil hingga kami tiba di tanah lapang. Matahari 10 pagi sudah cukup tinggi namun hawa di kampungku yang dingin membuatnya menjadi sejuk. 20 Anak sudah siap bermain, kakak dan teman temannya yang sebaya tampak mengatur permainan, memasukan teman-teman sebayaku dalam tim mereka, " Saya mau Dede' Sulaiman' di tim saya" teriak seorang anak tinggi hitam teman sebaya kakaku, kakak tampak tersenyum dan mengangguk, lalu menyuruhku berdiri di sisinya. Aku juga mengangguk dan tersenyum bangga, karena dipanggil Dede'Sulaiman", seorang pemain Bola nasional. Aku berjanji dalam hati akan bermain berlari kencang dan mengumpan bola-bolaku tanpa takut kali ini, karena aku Dede 'Sulaiman'.
Permainan pun dimulai, kami berlari mengejar dan menggiring bola menuju gawang lawan, Kakak adalah kapten tim kami, dia selalu memberikan aku umpan-umpan sambil berteriak menyuruhku berlari menggiring atau mengoper Bola. " Kasi Dede 'Sulaiman'..."...., " Ayo...Dede'Sulaiman'.."..." Awas Dede'Sulaiman'..." riuh rendah teriakan dari timku dan tim lawan dengan terus menyerukan namaku sebagai Dede 'Sulaiman'....hingga 2 babak timkupun keluar jadi pemenang dengan skor 4-2. Wah keringat kami bercucuran, kaki tangan serta celana kami sudah penuh tanah dan rumput, ada yang lecet-lecet karena lapangan bola itu hanya tanah keras yang jika musim kering seperti sekarang akan menjadi berdebu karena rumputnya mati, dan menjadi licin dan becek dikala musim hujan. Dua jam berlarian kamipun istirahat, dan bersiap pulang, matahari sudah tinggi, dan perut kami keroncongan. Sambil berjalan menuju pulang kami berceloteh ada yang slaing menyalahkan, ada yang berjanji besok jika main lagi akan mengelahkan tim kami, dan hari itu aku dielu-elukan sebagai Dede'Sulaiman' walaupun aku tidak mencetak gol, tapi aku tadi berlari sangat kencang dan tak kenal lelah, mengumpan dan menggirng bola. Hari itu aku merasa seperti seorang bintang. Seperti Dede'Sulaiman' pemain bola nasional Indonesia.
Tiba dirumah, akupun bercerita kepada ibu, bagaimana kami bermain, bagaimana aku berlari kencang. "Tapi kao tidak mencetak gol satupun?" tanya ibu tersenyum, " Aku sudah berusaha, aku yang umpan ke kakak jadi 2 gol..., aku masih kecil, kipernya tinggi...aku susah tendang bola tinggi bu,!!" Jawabku kesal karena diledek ibu, kakak yang berdiri memegang segelas air hanya tertawa
Selesai santap siang bersama seluruh keluarga, kakak memanggilku, ditanggannya sudah tampak sebuah Spidol Hitam besar, dan sebuah baju putih milik ku. Kami lalu duduk di teras, kakak lalu membalikan baju kaos putih yang sudah agak kecoklatan karena sudah usang milik ku. Di punggung baju itu kakak lalu menuliskan angka, '17'....lalu menuliskan dibawah angka itu " Dede Sulaiman". Aku tersenyum senang, kamipun tertawa gembira, kakak lalu berkata " Esok kita main lagi, kao kenakan kaos ini, setiap kao bermain bola, kenakan kaos ini" aku menjawab dengan mengangguk, lalu mencoba mengenakan kaos itu...kamipun tertawa gembira.
Siang itu aku terus mengenakan kaos putih yang sudah sirubah kakak menjadi kostum Bola ku, 17, Dede Sulaiman.
Saya dedikasikan untk: Kakak Saya dan Sahabat masa kecil saya di kampung !