DIARY OF A MADMAN
Screaming at the window Watch me die another day Hopeless situation Endless price I have to pay Sanity now it's beyond me There's no choice Diary of a madman Walk the line again today Entries of confusion Dear diary, I'm here to stay
Wednesday, August 29, 2018
Sunday, August 7, 2016
Saturday, October 17, 2015
KOTA
Aku ingat ibu,bapak dan saudara-saudaraku. Kadang tak terasa air mataku menetes membasahi bantal bersarung biru kusam bergambar bunga-bunga, aku bungkam dalam tangisku, dongengan nenek tentang " PAN BALANG TAMAK" dan " I CICING ANDIL" tak cukup menghibur bathinku yang rindu belaian bapak dan ibu, yang rindu riuh canda tawa saudara-saudaraku. Aku ingin malam cepat berlalu dan matahari segera tiba, setidaknya hari-hari sekolah dan teman-temanku akan bisa lupakan rindu tebal kampung halaman dan belaian orang tua.
Tanpa kusadari tangis antarku tidur,terlelap dalam malam yang sama membosankan, dan mimpi yang selalu indah, tentang sawah, sungai,hutan belakang rumah, dan tentu ibu dan bapak. Suara hiruk pikuk dari dapur dan ruang makan sebelah kamarku bangunkan pagiku, matahari sudah menerobos celah-celah kamar dan jendela bergorden kain putih tipis kecoklatan. Tak nampak kakek tertidur disisiku, dia selalu bangun lebih pagi dari aku, menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan buang hajat, lalu berdiri didekat tembok menatap lalu lalang orang-orang menuju pasar atau pulang dari pasar, tembok setinggi 1 meter berdiri kokoh diatas tanah tinggi 5 meter membuat rumah kami tinggal sangat tinggi menjulang hingga bisa menikmati lalu lalang manusia dan kendaraan dijalan raya dibawahnya. Suara klakson dan riuh rendah orang menyapa pagi, selalu terdengar seperti biasa. Tetangga belakang rumah berdendang mengikuti alunan lagu " Ari Wibowo" Kodokpun Ikut Bernyanyi, statis ...dijam sama dan lagu dari penyanyi dan stereo yang sama. Bosan namun tak ada pilihan, lagu itu memang sedang digemari,diputar di radio dan tipi.
Nenek tampak sibuk di dapur, membuat air hangat untuk kopi, kadang ia bicara sendiri bergumam kecil akibat sumbu kompor yang membuat nyala kompor tidak menyala merata, mungkin dia kesal karena kakek belum juga sempat mengganti sumbu yang hampir sisa setengah. Malas-malas aku ambil handuk dari jemuran bercat biru berkarat, lalu melangkah menuju kamar mandi, aku guyur tubuh kecilku, basahi rambutku yang sudah cukup panjang menutupi telinga, aku belum sempat memtongnya, aku lebih suka panjang hingga aku bisa sembunyikan wajahku, aku juga belum sempat minta kakek untuk meminta tetangga sebelah potongkan rambutku, mereka orang-orang dewasa dan orang -orang tua yang sibuk dengan hari-hari mereka. Aku gosokan sabun mandi yang sudah mulai tipis setipis silet, wanginya sudah tak semerbak,tapi sudahlah aku tak terlalu ambil pusing dengan mandi penuh busa, mandi pagi terlalu dingin dan tidak nyaman berlama-lama, aku hanya suka melamun dan bermain air saja itupun waktu mandi sore. Aku buru-buru menyeka air disekujur tubuhku dengan handuk coklat yang sudha mulai robek kecil dan agak lapuk. Aku bergegas masuk kamar, kakek masih menikmati lalu lalang dijalanan dari tepi tembok, tubuhnya masih terbalut selimut loreng rumah sakit,bantuan pemerintah untuk pengungsi kala Gunung Agung meletus, baunya sudah apek dan warnanya kusam luntur, tapi itu selimut kesukaan kakek. Aku tak pedulikan gumaman nenek yang tampak sibuk siapkan kopi untuk kakek dan teh manis untuk ku. Sarapan hanya hal lain yang selalu sama saban hari, teh manis ditemani ubi rebus atau roti berbentuk ikan yang agak melempem. Aku sudah mengenakan seragam putih merah SD ku, hari ini Senin, aku mengenakan dasi dan tak lupa kenakan topi sekolah setelah aku sisir rambut dengan sisir nenek yang masih sisakan beberapa rambut uban diruas-ruasnya, dan berbau minyak kelapa.
Setelah kukenakan sepatu, akupun duduk dikursi kayu buatan kakek yang dicat biru mirip kayu perahu, nenek kembali sibuk didapur menanak nasi, akupun menyeruput teh ku, masih sisa setengah, roti berbentuk ikan melempem aku hanya ambil satu dua lalu kukunyah, mataku masih sisakan kantuk. Kakek hampiri aku, dia tergopoh masih dalam balutan selimut, lalu sesaat memanggil nenek di dapur sebelum duduk dikursi kayu sebelahku, matanya kisahkan sejuta cerita masa lalu, hitam keabuan dan guratan usia dan lelahnya tampak pada kelopak mata dan kerut dahinya, rambutnya mulai hampir putih semua,beda dengan nenak yang rambutnya masih tampak kehitaman diusia hampir 80 tahun. Nenek tampak melongokan kepala dari pintu dapur, berujar sesuatu,lalu tergesa keluar dan dari lipatan kain batik kusam yang dikanakan iapun mengeluarkan dua keping uang logam seratus rupiah. Lalu memasukan kekantong baju seragamku. Aku masih diam menatap kosong pagi yang sama kearah halaman rumah yang sumpek oleh tanaman dan bunga-bunga yang mulai tak terawat. Matahari mulai terang, teman-temanku terdengar berteriak memanggil namaku dibawah dijalanan sana, anjing putih kami yang tertidur malas di halaman sesekali menggongong,namanya Leo, dia teman bermainku dikala sepi menghampiri, anjing Bali bermata coklat dan hidungnya merah,badanya gemuk usianya baru setahun, paman yang memberikanya padaku. Setelah kuhabiskan teh dan kunyahan terakhirku akupun menghambur meninggalkan kakek yang masih menikmati sarapan paginya ,mengambil tas biru bergambar "LUPUS" yang aku selempangkan lalu berlari diikuti Leo menuju teman-temanku menunggu ditangga masuk pekarangan rumah.
Ahhh....waktu cepat berlalu, semua kenangan itu masih aku ingat malam ini, kakek dan nenek mereka menjagaku hingga usia tak sanggup lagi mereka jalani. Asap rokok mengepul dari mulutku, aroma Arak penuhi ruang kamar kecil bak kapal pecah ,temanku. Teguk demi teguk, botol demi botol antarkan kami nyanyikan lagu-lagu Andi Liany, diiringi suara gitar yang dimainkan sahabatku. Suaraku parau diantara koor sahabatku yang lain, jam hampir pagi, usia kami belasan dan kami menjalani hari yang sama. Buatku yang beda hanya tak ada lagi dongeng nenek temani tidur malamku, tak ada lagi sarapan pagi, dan tak ada kakek dan nenek lagi yang menjaga dan memberikan aku uang jajan seperti dulu, seperti kenangan ku akan selimut kakek dan tangis ku dimalam hari yang rindu ibu bapak dan saudara-saudara ku. Arak dan rokok serta nyanyian malam setidaknya sanggup membunuh rasa sepi dan kesendirianku, diantara sahabat-sahabat karibku.
Diusia belasan aku sudah ada dijalanan kota, kegelisahan dan kesepianku hanya terbunuh oleh berbotol arak dan nyanyian pinggir malam di Kota ini. Aku gelisah melihat diriku, iri melihat teman-temanku yang hidup diantara belaian kasih sayang orang tua dan keluarga mereka. Aku gelisah dalam kesendirianku, tak ada kakak yang akan membelaku,tak ada adik yang akan mendukungku,apalagi belaian kasih sayang orang tua. Aku terlalu muda untuk memahami segala hal yang aku alami, Bapak dan ibu serta saudara-saudaraku mereka menyanyagi aku, hanya saja mereka tak pernah ada ketika aku ingin bercerita tentang guruku yang galak, pelajaran yang aku suka dan gadis kecil pacar pertamaku. Aku menjadi liar,seliar malam menggelinding disudut kota ini. Seliar tingkah laku kami ketika Arak menguasai akal sehat kami.
Malam berganti,usia berganti namun jalanan tetap pelarianku dari rasa sepi dan berbeda. Sahabat dan nyanyian malam yang tetap setia menemani, kidung akan rasa cinta pada pandangan pertama, bait lagu akan kemarahan pada hidup dan nasib. Arak,Tuak dan rokok seolah bisa redakan lukaku. Aku kadang masih teringat buaian kakek dan dongeng nenek, aku kadang masih teringat aroma apek selimut kakek dan igauan nenek saban malam. Semakin aku ingat semakin aku ingin berlari lebih jauh dan dalam pada malam yang penuh hingar bingar suara sahabatku,petikan gitar dan aroma arak dan tembakau. Aku pernah mencintai teman sekelasku diusia belasan, mungkin aku yang pertama diantara sahabat karibku yang memiliki pacar, semua hanya karena aku ingin memiliki seseorang yang bisa ada disaat aku butuhkan. Orang yang bisa mendengar lelahnya kisah pelarianku, orang yang bisa memahami perasaanku,orang yang bisa mengerti bahwa aku berbeda.
Kisah haru biru percintaanku diusia belasan, tak hanya cinta monyet belaka, entah dia gadis yang kupuja menganggapnya begitu. Namun aku menjadi lebih dewasa diusia mudaku hanya karena aku hidup dan berjalan sendiri tanpa arah dan tanpa orang tua dan saudara yang bisa membimbingku dijalan yang seharusnya aku lewati.
Kota kecil dimana aku tumbuh,besar dan jatuh cinta pada pandangan pertama adalah kota kecil dimana malam adalah milikku, aroma arak dan tembakau adalah pelarianku. Kota kecil dimana aku merasa berbeda, dan tanpa pernah kusadari telah membentuk watak dan jiwaku menjadi "petarung jalanan" yang terasing diantara normalnya kehidupan manusia lain.
THE HOUND OF HEAVEN ( KISAH PARA PENJELAJAH SURGA)
Disini kami abadi, jika kelak kami memang harus punah, setidaknya kami pernah ada dan menjelajahi Pulau ini, hingga kami bisa ada dalam kisah-kisah manusia pulau Surga. Mulai kisah I Pucung, Balang Tamak hingga Parwa Wafatnya Prabu Yudhistira, nama kami abadi di dalamnya, walaupun tak ada monumen dibangun untuk kesetiaan kami. Tapi kami ada dari puncak-puncak gunung, di tiap jalanan Desa, hingga Desa -desa yang telah menjadi kota.
Ini adalah kisah kami, anjing-anjing Pulau Surga, kamilah para penjelajah surga. Kami memang terlahir untuk setia, di pulau surga ini leluhur kami adalah pilihan. Kami dipelihara tuan kami karena kami pilihan, dan kami semua dari keturunan anjing-anjing pilihan. Leluhur kami dimasa lampau ada di puri para Raja-Raja Bali, Pasraman orang-orang suci, para pemburu,para petani,para bendega,para pedagang. Kami mendapat tempat yang baik, kami diberikan kebebasan menjelajahi desa-desa sejauh kami bisa, karena kami setia kepada tuan kami, kami tak akan pergi jauh meninggalkan tuan kami.
Ketika itu peperangan demi peperangan terjadi di tanah surga, leluhur kami adalah saksi dari kekejian, pembantaian serta masa kegelapan pulau surga. leluhur kami pula saksi masa kejayaan dan "kerta" di Pulau Para Dewata ini.
Tak hanya dalam dongeng dan parwa ,kami ada dalam catatan lontar tentang siapa dan apa yang membuat kami berbeda, "CARCAN ASU" lontar tentang kami ,anjing penjelajah pulau surga yang terpilih ;
Kami akan disebut " asu gong sabarung" jika gonggongan kami bulat dan keras, serta saat menggonggong kami mengawasi dan mengikuti buruan kami, kami dipercaya memberikan kewibawaan
" Asu ipuser tahun" adalah jika pada kedua rahang kami terdapat "useran",kami dipercaya sebagai anjing yang sanggup mengusir mahluk jahat dan ditakuti roh-roh jahat.
" Asu mebulu barak" jika kami berbulu agak kemerahan, dengan lidah kami terdapat belang, atau tompel pada lidah,maka kami dipercaya sanggup mengusir "Kala Denget"
" Asu telapakan batisne belus" adalah jika telapak kaki kami selalu tampak basah dan berair, maka kami dianggap sanggup mengusir dan menjaga tuan kami dari segala bentuk ilmu hitam "pengeleakan" /Desti
" Asu selem " jika bulu kami dan hampir semua bagian tubuh kami hitam, dan ada sedikit warna kemarahan di ujung telinga kami, maka kami dipercaya akan sanggup menjaga tuan kami dari segala mara bahaya.
" Asu mebulu halus" jika kami memiliki bulu-bulu yang pendek dan halus, maka kami dianggap anjing yang bisa menjaga tuan kami dari segala gangguan mahluk halus yang jahat.
" Asu rajeg wesi" adalah kami yang memiliki bulu putih mulus, hitam legam atau loreng, dan memiliki bulatan mata yang hitam kami dipercaya sanggup melindungi rumah serta tuan kami dari segala bentuk "pepasangan", teluh dan ilmu hitam.
Dan masih banyak lagi tentang siapa kami dan kami adalah anjing-anjing pilihan yang menjaga dengan setia tuan kami dari segala bahaya, dalam lontar "Carcan Asu"
Tak hanya dari penampilan luar kami, namun di Pulau Surga sejak dahulu kala, leluhur kami dipilih berdasarkan sifat-sifat kami yang dilihat dari ukuran tubuh kami. Dalam Lontar Carcan Asu ,setidaknya ada sekitar 31 sifat anjing yang dituliskan. Di Pulau Surga ini sejak jaman dahulu leluhur mereka mewariskan cara untuk menentukan sifat anjing sebelum diputuskan akan memelihara kami, yakni Penghitungan Paksa, Jaya, Guna, Ketek dan Kiul.
Yaitu dengan mengukur panjang dari ujung moncong hingga ujung ekor kami. dengan menggunakan tali atau lidi yang lentur.
Kemudian, akan diukur ujung moncong hingga titik di antara mata kami. Lalu dengan ukuran tersebut, bagilah ukuran dari moncong hingga ujung ekor dengan ukuran ujung moncong hingga titik di antara mata. Bagi ukuran tersebut dengan mengulang urutan Paksa, Jaya, Guna, Ketek dan Kiul, lalu liat mana yang menjadi urutan terakhir dari pembagian tersebut. Urutan tersebut yang akan menjadi sifat dominan dari kami tersebut nantinya. Entah bagaimana seajarahnya namun ukuran tersebut kadang bisa tepat untuk menebak sifat-sifat kami akhirnya, dan tentu jauh sebelum Pulau Surga seperti saat ini, kadang kami dinamai sesuai karakter kami, I Paksa, I Jaya, I Guna.
Anjing Paksa, maka anjing tersebut nantinya akan dominan memiliki karakter yang Galak dan Agresif. Anjing berkarakter ini akan setia dengan pemiliknya dan selalu memiliki kecurigaan dengan setiap orang asing yang mendekati pemilikinya serta rumah pemilikinya. Anjing sangat cocok untuk dijadikan anjing penjaga rumah .
Kami yang memiliki sifat Jaya, akan dominan berkarakter seperti penguasa. Cederung aktraktif serta manja dan cederung lebih sering merengek-rengek pada tuanya. Sesuai dengan sebutan karakter ini, "JAYA", anjing dengan karakter ini akan cederung ingin berjaya pada pemilikinya. Kami dengan karakter ini sangat cocok dijadikan peliharaan rumahan yang sering dibelai dan berinteraksi, namun dianggap tidak cocok untuk menjaga rumah
Anjing Guna, adalah kami para anjing dengan karakter penurut dan sangat mudah untuk dilatih.
Kami yang dianggap bersifat Ketek,memiliki karakter berkebiasaan buruk dan kotor. Sifat alami kami akan sangat tampak pada kakater ini. Kami yang bersifat Ketek dianggap suka bermain-main jauh serta cenderung kotor, suka menggali-gali tanah, dan agak susah dilatih serta diatur.
Anjing Kiul, adalah kami yang dianggap dominan berkarakter pemalas. Hanya suka makan dan tidur. Jenis kami ini cocok digunakan sebagai penunggu di rumah tapi tidak bisa sebagai penjaga yang dihandalkan.
Dahulu kala ketika Pulau Surga masih penuh hutan lebat, leluhur kami adalah mereka anjing-anjing pilihan, adalah seahabat setia tuan-tuan mereka dalam berburu, itu sebabnya sampai sekarang dikenal istilah “cicing borosan” (=anjing pemburu). Ya leluhur kami adalah para pemburu, para petualang sejati, yang menjelajahi pulau surga jauh sebelum anjing "Kintamani" yang dikenal kini hingga seluruh dunia. Leluhur kami dan kami saat ini mungkin dikenal dengan sebutan "Kuluk Kacang" , anjing Kacang, Peanut dog. Seiring masa tuan-tuan leluhur kami tak lagi berburu namun hidup berladang dan bertani maka kami digunakan untuk menjaga kebun-kebun atau persawahan.
Kami tak lagi dilatih menjadi pemburu, walaupun setidaknya hingga saat ini insting serta jiwa kami sebagai anjing pemburu masih ada.
Seiring waktu, Pulau Surga....pulau yang telah dihuni leluhur kami sejak ribuan tahun silam telah berubah, sawah dan kebun tak lagi banyak. Tuan kami banyak yang bukan petani lagi, maka kami dipelihara hanya untuk menjaga rumah, terkadang seharian kami hanya berdiam diri didalam rumah, tempat kami bermain tak lagi luas. Jalan-jalan desa sudah menakutkan untuk kami,apalagi jalan-jalan di perkotaan, banyak kisah saudara kami tewas tergilas roda-roda kendaraan manusia. Mayat mereka terbengkalai dengan usus terurai membusuk ditengah atau ditepi jalan, terkadang bangkai mereka terberai mengering lalu lama-kelamaan menjadi debu akibat tergencet dan tergilas roda kendaraan setiap menitnya.
Jaman telah berubah, kami terkadang dilupakan. Kami kini menghadapi masa dimana kami harus bersaing dengan anjing-anjing dari ras lain, dan dari belahan benua lain. Mereka dianggap lebih bagus, lebih mahal serta lebih pantas diajak berjalan di jalanan,dipantai,ditaman-t
Kami dipelihara, hanya untuk tidak diberikan pilihan, karena kami tak lagi anjing-anjing pulau surga, para penjelajah yang dipilih karena kami pilihan. Kami adalah anjing buangan. Tak ada lagi legenda dan kisah heroik tentang kami. Tak lagi ada yang ingat kehebatan,kesetiaan, dan jasa-jasa kami menjaga para penghuni pulau surga turn temurun. Kesetiaan kami masih kami berikan untuk tuan kami para penghuni pulau surga. Tapi pada kenyataanya kami hidup,bertahan dan diingat kembali walaupun tak menjadi kisah hebat dari tangan,kepedulian dan uluran bantuan orang-orang asing di pulau surga.
Saudara-saudara kami dipuncak puncak bukit, di desa-desa terpencil...mereka masih setia kepada tuanya, dan masih sahabat terbaik manusia, yang bebas berlari menjelajahi tiap jengkal Pulau Surga. Sementara kami di tengah hiruk pikuk kebingungan desa menjadi kota, dan serbuan globalisasi hanya ada dalam poster -poster dengan jargon "SAVE BALI DOG" sementara keinginan kami menjelajah,berlari sejauh kami mau dan kembali kepada tuan kami setelah lelah bermain hanyalah mimpi dihimpitan gang sempit dan lalu lalang mesin-mesin dijalanan kota yang tiap menit mengincar hidup kami dengan berakhir menjadi "dendeng" ditengah-tengah jalanan kota.
Mimpi kami...jangan pernah sampai saudara kami diatas perbukitan dan desa-desa terpencil mengalami apa yang telah kami alami di himpitan kebingungan desa menjadi kota...serta neraka kota di pulaunya para Dewata. Mereka harus tetap berlari, bermain, melolong bahagia di surga yang tersisa di pulaunya para dewata. Dan kami...? biarlah kami menjadi legenda biarlah kami menjadi kisah... dimana kami pernah berjaya...dan kami pernah di binasakan dan dilupakan di tanah kelahiran kami sendiri ( - arya wijaya ©- )
Monday, August 15, 2011
BERPETUALANG BERSAMA SAHABAT
Membaca, buat sebagian anak, dan teman-temanku adalah hal yang tidak menyenangkan dan membosankan, namun buat Bapak ku, yang seorang Guru, dia slelau ingin memberikan kami yang terbaik dalam keterbatasan, sehingga umur 4 tahun aku sudah bisa membaca dan menulis, umur lima tahun aku sudah masuk Sekolah Dasar, dan membaca adalah keharusan dan kegiatan yang membuat ketagihan di rumah. Bapak membuatkan kami sebuah perpustakaan kecil dirumah, yang diisi berbagai macam buku, buku cerita dongeng, ensiklopedi sampai buku-buku Agama dan Pilsafat. Keseharian kami yang sederhana, dimana TV baru ada dirumah kami sekitar tahun 1985, dan Listrik baru mengalir ke kampung kami di tahun 1987. Maka TV adalah barang mewah, Bapak dan Ibu membelikan kami TV di Kota, satu lagi bagaimana mereka ingin memberikan yang terbaik buat keluarga kami. Karena biasanya warga kampungku akan berbondong ke kantor kecamatan yang berjarak hampir 3 kilometer dari rumahku. Dulu kakek, nenek dan bibi sering mengajak kami ke Kantor Kecamatan hanya untuk menonton TV, terutama acara Budaya Bali Drama Gong, puluhan warga kampung tua muda, anak-anak, ibu beranak, bayi berduyun-duyun menuju rumah Pak Camat untuk menikmati siaran Drama Gong.
Semenjak sore orang-orang sudah sibuk mempersiapkan diri untuk menonton, ada pula yang semenjak sore sudah berangkat menuju rumah Dinas Pak Camat diutara desa. Terkadang jika ada acara Tujuh belas agustusan, maka tak perlu jauh-jauh dari rumah, di lapangan bola didepan rumah kami, akan banyak hiburan, mulai dari tari-tarian, sampai layar tancap yang diadakan oleh Pemerintah kecamatan bekerjasama dengan Depertemen penerangan dan BKKBN kala itu.
Kami semenjak siang sehabis upacara bendera di sekolah akan datang berama-ramai bersama para sahabat, menyaksikan banyak lomba yang diselenggarakan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, mulai dari panjat pinang, tarik tambang dan berbagai lomba kegiatan olahraga, dari pagi hingga sore, dan malam hari berbagai hiburan digelar. Yang paling sedap adalah banykanya lapak-lapak dagang makanan dan minuman, dagang balon dan segala mainan. Benar-benar hari yang kami tunggu-tunggu setiap tahunnya. Kakek slelau ikut upacara bendera dilapangan bola depan rumah kami , pagi hari saat pengibaran sang Saka Merah Putih dan sore hari saat sang saka diturunkan, Kakek seorang pejuang, veteran yang ikut melawan Belanda dan Jepang. Dan pada hari kemerdekaan Kakek akan menerima bingkisan, kadang berupa hadiah atau sekedar uang dari Pemerintah, kamipun selalu mendapat uang jajan dari kakek pada hari itu.
Petualangan-petualangan alam liar yang ditulis Karl May, membuat aku seakan masuk kedalam kisah petualangan Old Shatterhand di prairie, bertemu suku-suku Indian. Sioux, Apache. Mengenal dan ingin tahu tentang bagaimana kehidupan suku-suku Indian Amerika yang masih barbar. Keganasan Barat, a Wild, Wild West.
Banyak hal berguna saya pelajari, bahkan sampai sekarangpun masih saya ingat, cara bertahan hidup di alam liar. Banyak permainan juga saya lakukan sendiri setelah membaca Buku Bapak Pandu Sedunia, seperti membuat jebakan untuk pencuri dari kaleng, belajar membaca jejak binatang, berenang dan banyak hal lain yang sangat berguna untuk bertahan di alam liar.
DEDE "SULAIMAN"
Musim Liburan 1985, Penerimaan rapor sudah usai, aku naik kelas. Dan adalah kesenangan tiada tara menyambut musim liburan. Dari sekolahpun kami sudah merencanakan bersama teman-teman permainan-permainan yang mangasyikan. Walau aku tak juara kelas tapi, aku tetap senang. Kakaku selalu juara kelas, dia kebanggan Ibu dan Bapak, karena pintar dan berprestasi di sekolah. Kami boleh tidur sampai larut malam karena esok libur kenaikan kelas sudah mulai, aku ikut mengobrol bersama Kakek, Bapak, ibu, nenek, paman-paman dan bibi-bibiku, kakak juga ikut, mengobrol seusai makan malam di teras rumah begitu mengasyikan, banyak cerita. Bapak bercerita tentang bagaimana keadaan kota, makanan-makanan enak, banyak toko-toko bagus, dan kendaraan berlalu lalang tak sesepi kampung kami, yang mungkin dilewati kendaraan hanya sekali dalam 5 jam, kadang sama sekali tak ada kendaraan lewat, Jalan kampungku masih tanah berbatu, walopun kampungku adalah jalur alternatif menuju dua kabupaten. Tapi entahlah kenapa tak kunjung diaspal juga..., memikirkan itu membuat aku tertidur dipangkuan nenek.
Ayam berkokok, pagi-pagi buta aku sudah bangun, tak bermalas-malas layaknya hari sekolah, pagi-pagi aku sudah ikut Kakek dan kakaku menuju sungai besar di barat rumah, kami akan membuang hajat dan mandi di sungai besar sekaligus berjalan-jalan pagi menghirup segarnya udara kampungku. Hamparan sawah, dan lapangan bola desa yang kami lewati, masih berselimut kabut, air-air embun membasahi kaki, namun memberikan kesegaran. Aku ingin bangun pagi tiap hari, agar bisa menikmati kedamaian dan keindahan desaku, ucapku dalam hati. Saat berjalan di areal lapangan bola desa, banyak anak-anak kecil teman kakakku dan juga teman-temanku ikut bergabung bersama kami, kakek tampak berjalan di depan, sesekali kami bersenda gurau dan berlarian dilapangan.
Suara deru air sudah kedengaran pertanda kami sudah cukup dektan dengan sungai, bening air sungai menyejukan mata, berkelok-kelok dari ketinggian tebing bagai ular raksasa. terbentang jembatan dari kawat melintang timur menuju barat sungai, sebagai alat penyebrangan satu-satunya bagi masyarakat di sebrang kampung kami jika air sungai bah. Menuju Sungai unda kami harus melewati satu sungai kecil bernama Telabah Busul dan jalanan yang terbuat dari bebatuan diantara hijau rimbun semak belukar.
Tak menunggu lama, kamipun mulai mencari tempat masing-masing untuk 'nongkrong' membuang hajat, sambil bermain air, kakek tampak bersembunyi menjongkok diantara bebatuan besar hitam bekas letusan gunung Agung, yang tampak menjulang dikejauhan. Gunung Agung memuntahkan amarahnya pada medio 1963, kampung kami tak rusak parah karena berada diantara bebukitan dan dipotong sungai besar, dari cerita nenek aku mendengar bagaimana lahar berjalan memerah membara ditonton ratusan warga saat melintasi sungai Unda ini.
Selesai membuang hajat dan membersihkan muka kami bersama kembali bersiap pulang, kakek sudah tampak mendahului dan berjalan jauh dari kami. Lenguh sapi dan gonggong anjing saat kami lewat diantara persawahan milik petani di desaku kami melangkah pulang, disambut hangat mataharai pagi.Tiba dirumah, pekerjaan pun menunggu, Ibu tampak sibuk di dapur bersama nenek dan bibi, kakek sudah tampak duduk diteras rumah sambil menikmati sraapan paginya, Bapak tampak lalulalang membersihkan rumah. Aku dan Kakak menghampiri bapak membantu mengepel dan merapikan rumah. Matahari makin tinggi, hari cukup siang, perut kamipun mulai keroncongan, aku berlari ke dapur meminta teh panas dari nenek, setelah kuselesaikan pekerjaanku membantu kakak dan bapak membersihkan rumah. Hari ini libur sekolah, kami semua berada di rumah, karena Ibu & Bapak adalah guru Sekolah Dasar. Libur panjang kenaikan kelas, selama satu bulan, ah sambil kunikmati sarapan pagiku aku sudah membayangkan hari-hari panjang untuk bermain.Tak berapa lama, serombongan anak-anak kampungku terdengar memanggil manggil kakak dan namaku, aku menghambur dari dapur menuju halaman, kakak tampak berdiri di teras rumah sambil tersenyum, nampak puluhan anak berdiri berjejer di depan rumah kami, sambil membawa bola. Akupun berteriak meminta izin kepada ibu yang masih sibuk di dapur, entah didengar atau tidak aku lalu berlari menghampir anak-anak itu, kakak juga tampak berjalan menghampiri mereka, tanpa menunggu lama, kami semua sudah berjalan beriringan menuju lapangan bola di depan rumahku, melewati jembatan dari sebatang pohon menyebrangi sungai kecil hingga kami tiba di tanah lapang. Matahari 10 pagi sudah cukup tinggi namun hawa di kampungku yang dingin membuatnya menjadi sejuk. 20 Anak sudah siap bermain, kakak dan teman temannya yang sebaya tampak mengatur permainan, memasukan teman-teman sebayaku dalam tim mereka, " Saya mau Dede' Sulaiman' di tim saya" teriak seorang anak tinggi hitam teman sebaya kakaku, kakak tampak tersenyum dan mengangguk, lalu menyuruhku berdiri di sisinya. Aku juga mengangguk dan tersenyum bangga, karena dipanggil Dede'Sulaiman", seorang pemain Bola nasional. Aku berjanji dalam hati akan bermain berlari kencang dan mengumpan bola-bolaku tanpa takut kali ini, karena aku Dede 'Sulaiman'.
Permainan pun dimulai, kami berlari mengejar dan menggiring bola menuju gawang lawan, Kakak adalah kapten tim kami, dia selalu memberikan aku umpan-umpan sambil berteriak menyuruhku berlari menggiring atau mengoper Bola. " Kasi Dede 'Sulaiman'..."...., " Ayo...Dede'Sulaiman'.."..." Awas Dede'Sulaiman'..." riuh rendah teriakan dari timku dan tim lawan dengan terus menyerukan namaku sebagai Dede 'Sulaiman'....hingga 2 babak timkupun keluar jadi pemenang dengan skor 4-2. Wah keringat kami bercucuran, kaki tangan serta celana kami sudah penuh tanah dan rumput, ada yang lecet-lecet karena lapangan bola itu hanya tanah keras yang jika musim kering seperti sekarang akan menjadi berdebu karena rumputnya mati, dan menjadi licin dan becek dikala musim hujan. Dua jam berlarian kamipun istirahat, dan bersiap pulang, matahari sudah tinggi, dan perut kami keroncongan. Sambil berjalan menuju pulang kami berceloteh ada yang slaing menyalahkan, ada yang berjanji besok jika main lagi akan mengelahkan tim kami, dan hari itu aku dielu-elukan sebagai Dede'Sulaiman' walaupun aku tidak mencetak gol, tapi aku tadi berlari sangat kencang dan tak kenal lelah, mengumpan dan menggirng bola. Hari itu aku merasa seperti seorang bintang. Seperti Dede'Sulaiman' pemain bola nasional Indonesia.
Tiba dirumah, akupun bercerita kepada ibu, bagaimana kami bermain, bagaimana aku berlari kencang. "Tapi kao tidak mencetak gol satupun?" tanya ibu tersenyum, " Aku sudah berusaha, aku yang umpan ke kakak jadi 2 gol..., aku masih kecil, kipernya tinggi...aku susah tendang bola tinggi bu,!!" Jawabku kesal karena diledek ibu, kakak yang berdiri memegang segelas air hanya tertawa
Selesai santap siang bersama seluruh keluarga, kakak memanggilku, ditanggannya sudah tampak sebuah Spidol Hitam besar, dan sebuah baju putih milik ku. Kami lalu duduk di teras, kakak lalu membalikan baju kaos putih yang sudah agak kecoklatan karena sudah usang milik ku. Di punggung baju itu kakak lalu menuliskan angka, '17'....lalu menuliskan dibawah angka itu " Dede Sulaiman". Aku tersenyum senang, kamipun tertawa gembira, kakak lalu berkata " Esok kita main lagi, kao kenakan kaos ini, setiap kao bermain bola, kenakan kaos ini" aku menjawab dengan mengangguk, lalu mencoba mengenakan kaos itu...kamipun tertawa gembira.
Siang itu aku terus mengenakan kaos putih yang sudah sirubah kakak menjadi kostum Bola ku, 17, Dede Sulaiman.
Saya dedikasikan untk: Kakak Saya dan Sahabat masa kecil saya di kampung !
