Monday, August 15, 2011

BERPETUALANG BERSAMA SAHABAT




Membaca, buat sebagian anak, dan teman-temanku adalah hal yang tidak menyenangkan dan membosankan, namun buat Bapak ku, yang seorang Guru, dia slelau ingin memberikan kami yang terbaik dalam keterbatasan, sehingga umur 4 tahun aku sudah bisa membaca dan menulis, umur lima tahun aku sudah masuk Sekolah Dasar, dan membaca adalah keharusan dan kegiatan yang membuat ketagihan di rumah. Bapak membuatkan kami sebuah perpustakaan kecil dirumah, yang diisi berbagai macam buku, buku cerita dongeng, ensiklopedi sampai buku-buku Agama dan Pilsafat. Keseharian kami yang sederhana, dimana TV baru ada dirumah kami sekitar tahun 1985, dan Listrik baru mengalir ke kampung kami di tahun 1987. Maka TV adalah barang mewah, Bapak dan Ibu membelikan kami TV di Kota, satu lagi bagaimana mereka ingin memberikan yang terbaik buat keluarga kami. Karena biasanya warga kampungku akan berbondong ke kantor kecamatan yang berjarak hampir 3 kilometer dari rumahku. Dulu kakek, nenek dan bibi sering mengajak kami ke Kantor Kecamatan hanya untuk menonton TV, terutama acara Budaya Bali Drama Gong, puluhan warga kampung tua muda, anak-anak, ibu beranak, bayi berduyun-duyun menuju rumah Pak Camat untuk menikmati siaran Drama Gong.


Semenjak sore orang-orang sudah sibuk mempersiapkan diri untuk menonton, ada pula yang semenjak sore sudah berangkat menuju rumah Dinas Pak Camat diutara desa. Terkadang jika ada acara Tujuh belas agustusan, maka tak perlu jauh-jauh dari rumah, di lapangan bola didepan rumah kami, akan banyak hiburan, mulai dari tari-tarian, sampai layar tancap yang diadakan oleh Pemerintah kecamatan bekerjasama dengan Depertemen penerangan dan BKKBN kala itu.
Kami semenjak siang sehabis upacara bendera di sekolah akan datang berama-ramai bersama para sahabat, menyaksikan banyak lomba yang diselenggarakan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, mulai dari panjat pinang, tarik tambang dan berbagai lomba kegiatan olahraga, dari pagi hingga sore, dan malam hari berbagai hiburan digelar. Yang paling sedap adalah banykanya lapak-lapak dagang makanan dan minuman, dagang balon dan segala mainan. Benar-benar hari yang kami tunggu-tunggu setiap tahunnya. Kakek slelau ikut upacara bendera dilapangan bola depan rumah kami , pagi hari saat pengibaran sang Saka Merah Putih dan sore hari saat sang saka diturunkan, Kakek seorang pejuang, veteran yang ikut melawan Belanda dan Jepang. Dan pada hari kemerdekaan Kakek akan menerima bingkisan, kadang berupa hadiah atau sekedar uang dari Pemerintah, kamipun selalu mendapat uang jajan dari kakek pada hari itu.


Tapi semua hiburan itu cuma setahun sekali, itupun jika Kecamatan mengadakan acara, jika tidak 17 Agustus hanya upacara bedera saja. Tak ada hiburan gratis buat Rakyat. Jadi hiburan yang paling aku senangi adalah membaca, buku bacaan seolah bagai candu yang membuat ketagihan. Ratusan buku di perpustakaan kecil rumah selalu habis kami baca, bergilir. Cerita-cerita petualangan aku paling Suka. Seperti Winnetou Ketua Suku Apache, Tarzan si Kera Putih, dan banyak lagi. Kami tidak gemar membaca komik, namun koleksi buku-buku cerita yang ada adalah buku cerita dipenuhi kisah-kisah petualangan di alam liar.


Petualangan-petualangan alam liar yang ditulis Karl May, membuat aku seakan masuk kedalam kisah petualangan Old Shatterhand di prairie, bertemu suku-suku Indian. Sioux, Apache. Mengenal dan ingin tahu tentang bagaimana kehidupan suku-suku Indian Amerika yang masih barbar. Keganasan Barat, a Wild, Wild West.

Darisanalan bermula ide-ide petualangan ku dengan sahabat-sahabatku. Mendaki bukit Dewangga di belakang rumah kami, hingga masuk lorong gua peninggalan Jepang di utara rumah kami. Banyak permainan yang kami lakukan berdasar buku-buku bacaan tentang kisah-kisah petualangan yang pernah aku baca. Dan aku selalu bermain tanpa lupa mengenakan topi Cowboy coklatku, sepatu boot amphibi, sebuah pisau pramuka dan buku panduan Pramuka berjudul, Robert Baden Powel, Bapak Pandu Sedunia.

Banyak hal berguna saya pelajari, bahkan sampai sekarangpun masih saya ingat, cara bertahan hidup di alam liar. Banyak permainan juga saya lakukan sendiri setelah membaca Buku Bapak Pandu Sedunia, seperti membuat jebakan untuk pencuri dari kaleng, belajar membaca jejak binatang, berenang dan banyak hal lain yang sangat berguna untuk bertahan di alam liar.





DEDE "SULAIMAN"




Musim Liburan 1985, Penerimaan rapor sudah usai, aku naik kelas. Dan adalah kesenangan tiada tara menyambut musim liburan. Dari sekolahpun kami sudah merencanakan bersama teman-teman permainan-permainan yang mangasyikan. Walau aku tak juara kelas tapi, aku tetap senang. Kakaku selalu juara kelas, dia kebanggan Ibu dan Bapak, karena pintar dan berprestasi di sekolah. Kami boleh tidur sampai larut malam karena esok libur kenaikan kelas sudah mulai, aku ikut mengobrol bersama Kakek, Bapak, ibu, nenek, paman-paman dan bibi-bibiku, kakak juga ikut, mengobrol seusai makan malam di teras rumah begitu mengasyikan, banyak cerita. Bapak bercerita tentang bagaimana keadaan kota, makanan-makanan enak, banyak toko-toko bagus, dan kendaraan berlalu lalang tak sesepi kampung kami, yang mungkin dilewati kendaraan hanya sekali dalam 5 jam, kadang sama sekali tak ada kendaraan lewat, Jalan kampungku masih tanah berbatu, walopun kampungku adalah jalur alternatif menuju dua kabupaten. Tapi entahlah kenapa tak kunjung diaspal juga..., memikirkan itu membuat aku tertidur dipangkuan nenek.



Ayam berkokok, pagi-pagi buta aku sudah bangun, tak bermalas-malas layaknya hari sekolah, pagi-pagi aku sudah ikut Kakek dan kakaku menuju sungai besar di barat rumah, kami akan membuang hajat dan mandi di sungai besar sekaligus berjalan-jalan pagi menghirup segarnya udara kampungku. Hamparan sawah, dan lapangan bola desa yang kami lewati, masih berselimut kabut, air-air embun membasahi kaki, namun memberikan kesegaran. Aku ingin bangun pagi tiap hari, agar bisa menikmati kedamaian dan keindahan desaku, ucapku dalam hati. Saat berjalan di areal lapangan bola desa, banyak anak-anak kecil teman kakakku dan juga teman-temanku ikut bergabung bersama kami, kakek tampak berjalan di depan, sesekali kami bersenda gurau dan berlarian dilapangan.



Suara deru air sudah kedengaran pertanda kami sudah cukup dektan dengan sungai, bening air sungai menyejukan mata, berkelok-kelok dari ketinggian tebing bagai ular raksasa. terbentang jembatan dari kawat melintang timur menuju barat sungai, sebagai alat penyebrangan satu-satunya bagi masyarakat di sebrang kampung kami jika air sungai bah. Menuju Sungai unda kami harus melewati satu sungai kecil bernama Telabah Busul dan jalanan yang terbuat dari bebatuan diantara hijau rimbun semak belukar.
Tak menunggu lama, kamipun mulai mencari tempat masing-masing untuk 'nongkrong' membuang hajat, sambil bermain air, kakek tampak bersembunyi menjongkok diantara bebatuan besar hitam bekas letusan gunung Agung, yang tampak menjulang dikejauhan. Gunung Agung memuntahkan amarahnya pada medio 1963, kampung kami tak rusak parah karena berada diantara bebukitan dan dipotong sungai besar, dari cerita nenek aku mendengar bagaimana lahar berjalan memerah membara ditonton ratusan warga saat melintasi sungai Unda ini.

Selesai membuang hajat dan membersihkan muka kami bersama kembali bersiap pulang, kakek sudah tampak mendahului dan berjalan jauh dari kami. Lenguh sapi dan gonggong anjing saat kami lewat diantara persawahan milik petani di desaku kami melangkah pulang, disambut hangat mataharai pagi.Tiba dirumah, pekerjaan pun menunggu, Ibu tampak sibuk di dapur bersama nenek dan bibi, kakek sudah tampak duduk diteras rumah sambil menikmati sraapan paginya, Bapak tampak lalulalang membersihkan rumah. Aku dan Kakak menghampiri bapak membantu mengepel dan merapikan rumah. Matahari makin tinggi, hari cukup siang, perut kamipun mulai keroncongan, aku berlari ke dapur meminta teh panas dari nenek, setelah kuselesaikan pekerjaanku membantu kakak dan bapak membersihkan rumah. Hari ini libur sekolah, kami semua berada di rumah, karena Ibu & Bapak adalah guru Sekolah Dasar. Libur panjang kenaikan kelas, selama satu bulan, ah sambil kunikmati sarapan pagiku aku sudah membayangkan hari-hari panjang untuk bermain.Tak berapa lama, serombongan anak-anak kampungku terdengar memanggil manggil kakak dan namaku, aku menghambur dari dapur menuju halaman, kakak tampak berdiri di teras rumah sambil tersenyum, nampak puluhan anak berdiri berjejer di depan rumah kami, sambil membawa bola. Akupun berteriak meminta izin kepada ibu yang masih sibuk di dapur, entah didengar atau tidak aku lalu berlari menghampir anak-anak itu, kakak juga tampak berjalan menghampiri mereka, tanpa menunggu lama, kami semua sudah berjalan beriringan menuju lapangan bola di depan rumahku, melewati jembatan dari sebatang pohon menyebrangi sungai kecil hingga kami tiba di tanah lapang. Matahari 10 pagi sudah cukup tinggi namun hawa di kampungku yang dingin membuatnya menjadi sejuk. 20 Anak sudah siap bermain, kakak dan teman temannya yang sebaya tampak mengatur permainan, memasukan teman-teman sebayaku dalam tim mereka, " Saya mau Dede' Sulaiman' di tim saya" teriak seorang anak tinggi hitam teman sebaya kakaku, kakak tampak tersenyum dan mengangguk, lalu menyuruhku berdiri di sisinya. Aku juga mengangguk dan tersenyum bangga, karena dipanggil Dede'Sulaiman", seorang pemain Bola nasional. Aku berjanji dalam hati akan bermain berlari kencang dan mengumpan bola-bolaku tanpa takut kali ini, karena aku Dede 'Sulaiman'.


Permainan pun dimulai, kami berlari mengejar dan menggiring bola menuju gawang lawan, Kakak adalah kapten tim kami, dia selalu memberikan aku umpan-umpan sambil berteriak menyuruhku berlari menggiring atau mengoper Bola. " Kasi Dede 'Sulaiman'..."...., " Ayo...Dede'Sulaiman'.."..." Awas Dede'Sulaiman'..." riuh rendah teriakan dari timku dan tim lawan dengan terus menyerukan namaku sebagai Dede 'Sulaiman'....hingga 2 babak timkupun keluar jadi pemenang dengan skor 4-2. Wah keringat kami bercucuran, kaki tangan serta celana kami sudah penuh tanah dan rumput, ada yang lecet-lecet karena lapangan bola itu hanya tanah keras yang jika musim kering seperti sekarang akan menjadi berdebu karena rumputnya mati, dan menjadi licin dan becek dikala musim hujan. Dua jam berlarian kamipun istirahat, dan bersiap pulang, matahari sudah tinggi, dan perut kami keroncongan. Sambil berjalan menuju pulang kami berceloteh ada yang slaing menyalahkan, ada yang berjanji besok jika main lagi akan mengelahkan tim kami, dan hari itu aku dielu-elukan sebagai Dede'Sulaiman' walaupun aku tidak mencetak gol, tapi aku tadi berlari sangat kencang dan tak kenal lelah, mengumpan dan menggirng bola. Hari itu aku merasa seperti seorang bintang. Seperti Dede'Sulaiman' pemain bola nasional Indonesia.



Tiba dirumah, akupun bercerita kepada ibu, bagaimana kami bermain, bagaimana aku berlari kencang. "Tapi kao tidak mencetak gol satupun?" tanya ibu tersenyum, " Aku sudah berusaha, aku yang umpan ke kakak jadi 2 gol..., aku masih kecil, kipernya tinggi...aku susah tendang bola tinggi bu,!!" Jawabku kesal karena diledek ibu, kakak yang berdiri memegang segelas air hanya tertawa

Selesai santap siang bersama seluruh keluarga, kakak memanggilku, ditanggannya sudah tampak sebuah Spidol Hitam besar, dan sebuah baju putih milik ku. Kami lalu duduk di teras, kakak lalu membalikan baju kaos putih yang sudah agak kecoklatan karena sudah usang milik ku. Di punggung baju itu kakak lalu menuliskan angka, '17'....lalu menuliskan dibawah angka itu " Dede Sulaiman". Aku tersenyum senang, kamipun tertawa gembira, kakak lalu berkata " Esok kita main lagi, kao kenakan kaos ini, setiap kao bermain bola, kenakan kaos ini" aku menjawab dengan mengangguk, lalu mencoba mengenakan kaos itu...kamipun tertawa gembira.

Siang itu aku terus mengenakan kaos putih yang sudah sirubah kakak menjadi kostum Bola ku, 17, Dede Sulaiman.





Saya dedikasikan untk: Kakak Saya dan Sahabat masa kecil saya di kampung !
















Friday, July 22, 2011

ANAK GURU




Pagi 1983,hari pertama masuk Sekolah, bangun pagi di dinginnya Desa Sidemen 5 pagi, malas-malas membuka mata, menguap, dan setengah mengantuk menuju dapur, Ibu dan Bibi sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi dan menanak nasi. "Delem" anjing hitam keluarga tampak terlelap, mata nya kadang setengah terbuka tapi terlalu malas untuk memperdulikan aktifitas pagi yang mulai sibuk. Kakek tampak masuk pekarangan rumah, berjubah selimut merah seperti biasanya, mencoba melawan dingin pagi itu,ia mungkin sudah bangun jam 4 tadi lalu pergi ke sungai kecil di depan rumah kami, untuk buang hajat. Bapak tampak sibuk mengelap Vespa Super warna biru muda, dan siap dipanaskan mesinnya. Aku sibuk memperhatikan kesibukan pagi dimana aku pertama kali harus bangun pagi dan siap-siap berangkat sekolah, Ibu sibuk membuat kopi dan teh serta rebus ubi untuk sarapan kami. Bibi masih sibuk dengan bambu meniup-niup tungku mempertahankan api ditungku tetap menyala. Kakak ku tampak sibuk menyapu lantai rumah dan pekarangan dibantu nenek. Suara sapu beradu dengan tanah dan sampah, suara khas yang selalu aku dengar dari kamar manakala pagi menjelang, tapi kini aku melihat dalam kebingunganku dengan semua rutinitas pagi buta. Ibu tampak bergegas, menghidangkan sarapan pagi, Kakek tampak tergopoh menyambut kopi panas dan rebus ubi yang diberikan ibu kepadanya. Sambil duduk masih dengan selimut merah menutup badannya kakek tampak asyik menikmati sarapan paginya. Kopi panas dan ubi yang masih mengepulkan asap. Bapak juga tampak duduk di meja dekat dapur sambil menikmati sarapan. Dalam setengah kantuk ku sambil sesekali menganggu tidur "Delem" dibawah bale-bale di dapur, Ibu menyuruhku mengambil teh panas dan ubi rebus untuk sarapan, Ibu juga memanggil kakak ku, " Cepat makan sarapanmu...lalu sana mandi, hari ini jam 7 pagi upacara bendera di sekolah" ucap Ibu sambil menyiapkan wadah untuk nasi yang setengah matang yang siap dituang bibi dari panci tanah yang sudah hitam dan kusam.Sambil menikmati teh manis dan ubi rebus bersama kakak, aku memperhatikan asap mengepul memenuhi ruang dapur. Beras setengah matang yang dituang ke wadh tadi, oleh bibi diaduk dan ditambhkan air. Ibu lalu mengatakan kepada bibi untuk menanak nasi itu, sementara ibu pergi bersiap untuk mandi. Bapak tampak keluar dari kamar mandi, tepatnya sebuah ruang terbuka ditembok tanpa atap, dan menggunakan air pancuran yang diambil dari sumber air diatas bukit dekat rumah. Bapak lalu masuk dapur mengambil secentong air putih untuk menyikat gigi di halaman depan, sambil sesekali memprhatikan orang berlalu lalang di jalan depan rumah, orang-orang yang siap berangkat sekolah maupun pulang dan pergi ke pasar yang berada di selatan desa, 1 kilometer dari rumah kami. " Delem" beringsut lalu meregangkan badanya terbagun dari tidurnya, aku melemparinya ibu, dengan masih malas-malas "Delem"mengendus ubi yang kulempar lalu melahapnya, kini giliran kakak berlari mandi ketika ibu sudah tampak keluar dari kamar mandi dengan kepala tertutup handuk yang melilit kepalanya. Kembali ibu memerintahkan aku yang masih bermain-main dengan "Delem" , untuk bergegas. Ah...aku malas bathinku, aku malas mandi...dingin, aku malas sekolah. Kakek juga terdengar memanggil menyuruhku bergegas pula. Aku masih saja terdiam, Bapak aku lihat sudah rapi dengan safari biru, sepatu kulitnya mengkilap, rambutnya disisir rapi.

Seiring menderu suara Vespa Super Bapak, asap kelabu membumbung memenuhi halaman rumah dan aroma khas asap yang mengepul dari knalpot bersuara nyaringnya, aku berlari cepat menuju kamar mandi, matahari makin terang ketika aku keluar, dan seiring menjauhnya suara Vespa Super Bapak, artinya Bapak sudah berangkat menuju Kota Karangasem. Ibu yang sudah berseragam lengkap siap berangkat mengajar, dengan cekatan mengelap rambut dan badanku dari sisa-sisa air mandi tadi, seragam merah putih dasi dan topi sudah disiapkan Ibu untuk ku, umurku baru 5 tahun, dan aku sebenarnya belum mau sekolah, aku masih lebih suka menghabiskan waktu dengan kakek ke kebun dan memberi pakan ayam-ayam peliharaanya. atau ikut dengan bibi berjualan keliling, menjual kain tenun dan macam-macam, tapi kata Ibu aku harus masuk sekolah tahun ini, mungkin karena dirumah aku cuma bermain-main saja, dan terkadang karena kesibukan kakek, nenek dan bibi, aku hanya bermain sendiri di rumah. Ibu lalu memerintahkan aku mengambil tas yang sudah berisi buku-buku tulis kosong, pensil dan penhapus yang ditaruh dalam kotak. Dasi menempel di leherku, topi sudah nagkring dikepala, aku mencuri-curi pandang mematut-matut diriku di jendela kaca kamar. Jam enam tigapuluh pagi, deru lalulalang kendaraan dan manusia menuju dan pulang dari pasar di selatan rumah menambah keramaian pagi. Kakaku sudah lama menghilang, dia sudah berangkat bersama teman-temannya, anak-anak di kampungku. Setelah Ibu permisi berangkat kepada Kakek dan nenek, ibupun bergegas mengajak ku melangkah sedikit memaksaku. Dengan berat hati aku melangkah di belakang ibu, Delem, anjing hitam kami mengikuti sampai batas kampung, tambah membuat aku ingin pulang kembali. Sesekali Ibu berhenti menunggu aku yang berjalan pelan sambil berceloteh, lalu menarik tanganku kembali agar aku berjalan lebih cepat.
Tiba di gerbang sekolah, akupun menghempaskan tanganku dari ibu, mencoba melepaskan tarikan Ibu yang mencoba memaksaku masuk melewati gerbang sekolah. Perutku mulas, keringat bercucuran, aku merasa hari ini tersiksa, dengan rutinintas baru yang tidak pernah terfikir. Ibu kembali mengomel memarahiku, dengan terpaksa, akupun masuk gerbang, dihalaman sekolah tampak berkumpul anak-anak yang memakai seragam, dasi dan topi seperti yang aku pakai, aku mencari sosok-sosok orang yang aku kenal disana, namun tak juga aku lihat sosok yang aku kenal.


Ibu menyuruhku mengikutinya,aku masuk keruangan dimana terlihat banyak teman-teman Ibu menggunakan batik seragam sama dengan ibu, batik biru Korpri. Terdengar ada yang bertanya dan mereka membahas tentang aku, sesekali Ibu tertawa dan diikuti derai tawa beberapa temannya. Mereka guru-guru di Sekolah tempatku menuntut ilmu nanti, Ibuku salah satu Guru di Sekolah Dasar Inpres itu, SD Inpres No. 2 Sindhu, Sidemen tepatnya, jika berjalan kaki dari rumah sekolah itu hanya berjarak 20 menit, dengan berjalan cepat. Mereka tertawa mungkin karena ibu menceritakan bagaimana dia berhasil walau dengan memaksa membawa aku ke sekolah untuk di daftarkan dan masuk sekolah pertama kalinya.

Setelah berepot-repot, dan riuh rendah persiapan upacara Bendera Senin Pagi, akupun akhirnya berada dibarisan anak-anak sebayaku, anak-anak Kelas satu SD, diantara 10 murid, hanya tampak aku dan 2 orang dibarisanku saja menggunakan Sepatu, sisanya hanya beralas sendal dan bahkan tanpa alas kaki.

Hari ini, tak banyak kegiatan belajar di Sekolah, kami para murid kelas satu hanya diajak menyanyi, dan perkenalan, diabsen, istirahat dan Pulang, aku paling suka jam istirahat karena banyak jajanan yang dijual di dekat sekolah, mulai dari bubur sambal, es, mainan dan lain-lain. Wah uang bekal dari kakek habis sudah aku belanjakan. Satu lima rupiahan dan satu pecahan 10 rupiah....aku suka jam istirahat. Kami hanya bermain-main saja, sekolah hari pertama menyenagkan tidak seperti yang aku bayangkan. Gurunya pun baik-baik. Ibu sesekali masuk ruangan kelasku mungkin hanya memastikan bahwa aku lulus percobaan masuk sekolah. Karena aku anak termuda diantara teman-teman sekolahku.
Aku pulang lebih dulu dari kakak, Bapak dan Ibu. Aku langsung mengganti baju, usai makan siang, aku menemui Kakek, bercerita tentang hari pertama sekolah.
Malam harinya, Ibu menyuruhku belajar berhitung, aku tidak suka berhitung, terkadang aku menangis karena dipaksa ibu untuk belajar berhitung. aku lebih suka menulis dan menggambar.
Suatu hari aku bilang ke ibu, " Ibu aku tidak mau pakai tas, aku tidak mau pakai sepatu?!!", " Kenapa tidak mau? Bukankah tasmu bagus, sepatumu bagus, masih baru pula !!" Ujar Ibu.
" Aku malu.."Ucapku...," Kenapa Malu, bukankah kao biasa kemana-mana bersepatu, bermainpun dulu kao bersepatu ?" kembali Ibu bertanya," Aku ingin sama dengan teman-temanku...pakai tas plastik hitam dan tak beralas kaki" Jawabku. Lalu ibu tersenyum, mencoba mengerti apa maksudku, Ibu bilang" Kamu sama dengan mereka, tapi kamu anak guru..." Ibu mengelus kepalaku, " Kamu harus menjadi contoh teman-temanmu, menjadi teladan mereka, nanti apa kata orang kalau kamu tak beralas kaki ke sekolah, tak punya tas untuk buku-bukumu, orang bilang, Anak Guru kok begitu penampilannya??!" Ujar ibu kembali. Aku tak mengerti maksud ibu, akupun kadang memaksa untuk ke sekolah dengan tas kresek hitam plastik dan tanpa alas kaki, kadang cuma pakai sandal. Tapi makin lama, makin aku mengerti, Aku Anak Guru, aku harus membuat Ibu dan Bapak bangga, karena mereka seorang Guru, teladan masyarakat.

Didedikasikan untuk: Ibu & Bapak Saya ( Seorang Guru Sekolah Dasar)


























Thursday, July 14, 2011

KEEP ON DREAMING BOY (Cause when you stop dreamin' it's time to die)


"There's no leader of this band, and there never will be. That's the key. You can't control how the public perceives you-people see rock'n'roll bands as the guitar player and the singer"


Born as Agus Arya Adhi Wijaya, February 1st, 1979...I feel blessed, born as a boy that never cry outta loud in my birth. I have no fear to be born. I was born in my father hands...need no doctor for it. My father he was doesn't want to lost my mother and this boy...., Dee !

Grow up as a 4 year old boy with one big brother and has a Twin little brother, make me become a boy who pursuit for a parents love. And that make me from aunt, to uncle and end up grown up by my Grandma.
I know that sounds selfish, but you have to look at what it's doing to you personally - are you frustrated because of the way people perceive you, or are you happy enough about the things you've realized about yourself that you can tolerate the way people perceive you?

All I'm writing is just what I feel, that's all. I just keep it almost naked. And probably the words are so bland.