Monday, August 15, 2011

BERPETUALANG BERSAMA SAHABAT




Membaca, buat sebagian anak, dan teman-temanku adalah hal yang tidak menyenangkan dan membosankan, namun buat Bapak ku, yang seorang Guru, dia slelau ingin memberikan kami yang terbaik dalam keterbatasan, sehingga umur 4 tahun aku sudah bisa membaca dan menulis, umur lima tahun aku sudah masuk Sekolah Dasar, dan membaca adalah keharusan dan kegiatan yang membuat ketagihan di rumah. Bapak membuatkan kami sebuah perpustakaan kecil dirumah, yang diisi berbagai macam buku, buku cerita dongeng, ensiklopedi sampai buku-buku Agama dan Pilsafat. Keseharian kami yang sederhana, dimana TV baru ada dirumah kami sekitar tahun 1985, dan Listrik baru mengalir ke kampung kami di tahun 1987. Maka TV adalah barang mewah, Bapak dan Ibu membelikan kami TV di Kota, satu lagi bagaimana mereka ingin memberikan yang terbaik buat keluarga kami. Karena biasanya warga kampungku akan berbondong ke kantor kecamatan yang berjarak hampir 3 kilometer dari rumahku. Dulu kakek, nenek dan bibi sering mengajak kami ke Kantor Kecamatan hanya untuk menonton TV, terutama acara Budaya Bali Drama Gong, puluhan warga kampung tua muda, anak-anak, ibu beranak, bayi berduyun-duyun menuju rumah Pak Camat untuk menikmati siaran Drama Gong.


Semenjak sore orang-orang sudah sibuk mempersiapkan diri untuk menonton, ada pula yang semenjak sore sudah berangkat menuju rumah Dinas Pak Camat diutara desa. Terkadang jika ada acara Tujuh belas agustusan, maka tak perlu jauh-jauh dari rumah, di lapangan bola didepan rumah kami, akan banyak hiburan, mulai dari tari-tarian, sampai layar tancap yang diadakan oleh Pemerintah kecamatan bekerjasama dengan Depertemen penerangan dan BKKBN kala itu.
Kami semenjak siang sehabis upacara bendera di sekolah akan datang berama-ramai bersama para sahabat, menyaksikan banyak lomba yang diselenggarakan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, mulai dari panjat pinang, tarik tambang dan berbagai lomba kegiatan olahraga, dari pagi hingga sore, dan malam hari berbagai hiburan digelar. Yang paling sedap adalah banykanya lapak-lapak dagang makanan dan minuman, dagang balon dan segala mainan. Benar-benar hari yang kami tunggu-tunggu setiap tahunnya. Kakek slelau ikut upacara bendera dilapangan bola depan rumah kami , pagi hari saat pengibaran sang Saka Merah Putih dan sore hari saat sang saka diturunkan, Kakek seorang pejuang, veteran yang ikut melawan Belanda dan Jepang. Dan pada hari kemerdekaan Kakek akan menerima bingkisan, kadang berupa hadiah atau sekedar uang dari Pemerintah, kamipun selalu mendapat uang jajan dari kakek pada hari itu.


Tapi semua hiburan itu cuma setahun sekali, itupun jika Kecamatan mengadakan acara, jika tidak 17 Agustus hanya upacara bedera saja. Tak ada hiburan gratis buat Rakyat. Jadi hiburan yang paling aku senangi adalah membaca, buku bacaan seolah bagai candu yang membuat ketagihan. Ratusan buku di perpustakaan kecil rumah selalu habis kami baca, bergilir. Cerita-cerita petualangan aku paling Suka. Seperti Winnetou Ketua Suku Apache, Tarzan si Kera Putih, dan banyak lagi. Kami tidak gemar membaca komik, namun koleksi buku-buku cerita yang ada adalah buku cerita dipenuhi kisah-kisah petualangan di alam liar.


Petualangan-petualangan alam liar yang ditulis Karl May, membuat aku seakan masuk kedalam kisah petualangan Old Shatterhand di prairie, bertemu suku-suku Indian. Sioux, Apache. Mengenal dan ingin tahu tentang bagaimana kehidupan suku-suku Indian Amerika yang masih barbar. Keganasan Barat, a Wild, Wild West.

Darisanalan bermula ide-ide petualangan ku dengan sahabat-sahabatku. Mendaki bukit Dewangga di belakang rumah kami, hingga masuk lorong gua peninggalan Jepang di utara rumah kami. Banyak permainan yang kami lakukan berdasar buku-buku bacaan tentang kisah-kisah petualangan yang pernah aku baca. Dan aku selalu bermain tanpa lupa mengenakan topi Cowboy coklatku, sepatu boot amphibi, sebuah pisau pramuka dan buku panduan Pramuka berjudul, Robert Baden Powel, Bapak Pandu Sedunia.

Banyak hal berguna saya pelajari, bahkan sampai sekarangpun masih saya ingat, cara bertahan hidup di alam liar. Banyak permainan juga saya lakukan sendiri setelah membaca Buku Bapak Pandu Sedunia, seperti membuat jebakan untuk pencuri dari kaleng, belajar membaca jejak binatang, berenang dan banyak hal lain yang sangat berguna untuk bertahan di alam liar.





No comments:

Post a Comment