Saturday, October 17, 2015

KOTA

Malam telah kembali, siang tak sisakan banyak kisah. Aku diam dalam seribu bahasa menatap langit-langit kamar kakek. Sementara suara dengkuran kakek disebelahku bagai sebuah irama "blues" yang dendangkan lelahnya hari-hari. Nenek di kamar sebelah kadang terdengar mengigau, mimpi masa lalu dan hari-hari yang semakin renta. Kadang terdengar keluhan dan makian ketika tulang belulang mereka semakin terasa kaku disengatan dingin malam.

Aku ingat ibu,bapak dan saudara-saudaraku. Kadang tak terasa air mataku menetes membasahi bantal bersarung biru kusam bergambar bunga-bunga, aku bungkam dalam tangisku, dongengan nenek tentang " PAN BALANG TAMAK" dan " I CICING ANDIL" tak cukup menghibur bathinku yang rindu belaian bapak dan ibu, yang rindu riuh canda tawa saudara-saudaraku. Aku ingin malam cepat berlalu dan matahari segera tiba, setidaknya hari-hari sekolah dan teman-temanku akan bisa lupakan rindu tebal kampung halaman dan belaian orang tua.

Tanpa kusadari tangis antarku tidur,terlelap dalam malam yang sama membosankan, dan mimpi yang selalu indah, tentang sawah, sungai,hutan belakang rumah, dan tentu ibu dan bapak. Suara hiruk pikuk dari dapur dan ruang makan sebelah kamarku bangunkan pagiku, matahari sudah menerobos celah-celah kamar dan jendela bergorden kain putih tipis kecoklatan. Tak nampak kakek tertidur disisiku, dia selalu bangun lebih pagi dari aku, menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan buang hajat, lalu berdiri didekat tembok menatap lalu lalang orang-orang menuju pasar atau pulang dari pasar, tembok setinggi 1 meter berdiri kokoh diatas tanah tinggi 5 meter membuat rumah kami tinggal sangat tinggi menjulang hingga bisa menikmati lalu lalang manusia dan kendaraan dijalan raya dibawahnya. Suara klakson dan riuh rendah orang menyapa pagi, selalu terdengar seperti biasa. Tetangga belakang rumah berdendang mengikuti alunan lagu " Ari Wibowo" Kodokpun Ikut Bernyanyi, statis ...dijam sama dan lagu dari penyanyi dan stereo yang sama. Bosan namun tak ada pilihan, lagu itu memang sedang digemari,diputar di radio dan tipi.

Nenek tampak sibuk di dapur, membuat air hangat untuk kopi, kadang ia bicara sendiri bergumam kecil akibat sumbu kompor yang membuat nyala kompor tidak menyala merata, mungkin dia kesal karena kakek belum juga sempat mengganti sumbu yang hampir sisa setengah. Malas-malas aku ambil handuk dari jemuran bercat biru berkarat, lalu melangkah menuju kamar mandi, aku guyur tubuh kecilku, basahi rambutku yang sudah cukup panjang menutupi telinga, aku belum sempat memtongnya, aku lebih suka panjang hingga aku bisa sembunyikan wajahku, aku juga belum sempat minta kakek untuk meminta tetangga sebelah potongkan rambutku, mereka orang-orang dewasa dan orang -orang tua yang sibuk dengan hari-hari mereka. Aku gosokan sabun mandi yang sudah mulai tipis setipis silet, wanginya sudah tak semerbak,tapi sudahlah aku tak terlalu ambil pusing dengan mandi penuh busa, mandi pagi terlalu dingin dan tidak nyaman berlama-lama, aku hanya suka melamun dan bermain air saja itupun waktu mandi sore. Aku buru-buru menyeka air disekujur tubuhku dengan handuk coklat yang sudha mulai robek kecil dan agak lapuk. Aku bergegas masuk kamar, kakek masih menikmati lalu lalang dijalanan dari tepi tembok, tubuhnya masih terbalut selimut loreng rumah sakit,bantuan pemerintah untuk pengungsi kala Gunung Agung meletus, baunya sudah apek dan warnanya kusam luntur, tapi itu selimut kesukaan kakek. Aku tak pedulikan gumaman nenek yang tampak sibuk siapkan kopi untuk kakek dan teh manis untuk ku. Sarapan hanya hal lain yang selalu sama saban hari, teh manis ditemani ubi rebus atau roti berbentuk ikan yang agak melempem. Aku sudah mengenakan seragam putih merah SD ku, hari ini Senin, aku mengenakan dasi dan tak lupa kenakan topi sekolah setelah aku sisir rambut dengan sisir nenek yang masih sisakan beberapa rambut uban diruas-ruasnya, dan berbau minyak kelapa.

Setelah kukenakan sepatu, akupun duduk dikursi kayu buatan kakek yang dicat biru mirip kayu perahu, nenek kembali sibuk didapur menanak nasi, akupun menyeruput teh ku, masih sisa setengah, roti berbentuk ikan melempem aku hanya ambil satu dua lalu kukunyah, mataku masih sisakan kantuk. Kakek hampiri aku, dia tergopoh masih dalam balutan selimut, lalu sesaat memanggil nenek di dapur sebelum duduk dikursi kayu sebelahku, matanya kisahkan sejuta cerita masa lalu, hitam keabuan dan guratan usia dan lelahnya tampak pada kelopak mata dan kerut dahinya, rambutnya mulai hampir putih semua,beda dengan nenak yang rambutnya masih tampak kehitaman diusia hampir 80 tahun. Nenek tampak melongokan kepala dari pintu dapur, berujar sesuatu,lalu tergesa keluar dan dari lipatan kain batik kusam yang dikanakan iapun mengeluarkan dua keping uang logam seratus rupiah. Lalu memasukan kekantong baju seragamku. Aku masih diam menatap kosong pagi yang sama kearah halaman rumah yang sumpek oleh tanaman dan bunga-bunga yang mulai tak terawat. Matahari mulai terang, teman-temanku terdengar berteriak memanggil namaku dibawah dijalanan sana, anjing putih kami yang tertidur malas di halaman sesekali menggongong,namanya Leo, dia teman bermainku dikala sepi menghampiri, anjing Bali bermata coklat dan hidungnya merah,badanya gemuk usianya baru setahun, paman yang memberikanya padaku. Setelah kuhabiskan teh dan kunyahan terakhirku akupun menghambur meninggalkan kakek yang masih menikmati sarapan paginya ,mengambil tas biru bergambar "LUPUS" yang aku selempangkan lalu berlari diikuti Leo menuju teman-temanku menunggu ditangga masuk pekarangan rumah.

Ahhh....waktu cepat berlalu, semua kenangan itu masih aku ingat malam ini, kakek dan nenek mereka menjagaku hingga usia tak sanggup lagi mereka jalani. Asap rokok mengepul dari mulutku, aroma Arak penuhi ruang kamar kecil bak kapal pecah ,temanku. Teguk demi teguk, botol demi botol antarkan kami nyanyikan lagu-lagu Andi Liany, diiringi suara gitar yang dimainkan sahabatku. Suaraku parau diantara koor sahabatku yang lain, jam hampir pagi, usia kami belasan dan kami menjalani hari yang sama. Buatku yang beda hanya tak ada lagi dongeng nenek temani tidur malamku, tak ada lagi sarapan pagi, dan tak ada kakek dan nenek lagi yang menjaga dan memberikan aku uang jajan seperti dulu, seperti kenangan ku akan selimut kakek dan tangis ku dimalam hari yang rindu ibu bapak dan saudara-saudara ku. Arak dan rokok serta nyanyian malam setidaknya sanggup membunuh rasa sepi dan kesendirianku, diantara sahabat-sahabat karibku.

Diusia belasan aku sudah ada dijalanan kota, kegelisahan dan kesepianku hanya terbunuh oleh berbotol arak dan nyanyian pinggir malam di Kota ini. Aku gelisah melihat diriku, iri melihat teman-temanku yang hidup diantara belaian kasih sayang orang tua dan keluarga mereka. Aku gelisah dalam kesendirianku, tak ada kakak yang akan membelaku,tak ada adik yang akan mendukungku,apalagi belaian kasih sayang orang tua. Aku terlalu muda untuk memahami segala hal yang aku alami, Bapak dan ibu serta saudara-saudaraku mereka menyanyagi aku, hanya saja mereka tak pernah ada ketika aku ingin bercerita tentang guruku yang galak, pelajaran yang aku suka dan gadis kecil pacar pertamaku. Aku menjadi liar,seliar malam menggelinding disudut kota ini. Seliar tingkah laku kami ketika Arak menguasai akal sehat kami.

Malam berganti,usia berganti namun jalanan tetap pelarianku dari rasa sepi dan berbeda. Sahabat dan nyanyian malam yang tetap setia menemani, kidung akan rasa cinta pada pandangan pertama, bait lagu akan kemarahan pada hidup dan nasib. Arak,Tuak dan rokok seolah bisa redakan lukaku. Aku kadang masih teringat buaian kakek dan dongeng nenek, aku kadang masih teringat aroma apek selimut kakek dan igauan nenek saban malam. Semakin aku ingat semakin aku ingin berlari lebih jauh dan dalam pada malam yang penuh hingar bingar suara sahabatku,petikan gitar dan aroma arak dan tembakau. Aku pernah mencintai teman sekelasku diusia belasan, mungkin aku yang pertama diantara sahabat karibku yang memiliki pacar, semua hanya karena aku ingin memiliki seseorang yang bisa ada disaat aku butuhkan. Orang yang bisa mendengar lelahnya kisah pelarianku, orang yang bisa memahami perasaanku,orang yang bisa mengerti bahwa aku berbeda.

Kisah haru biru percintaanku diusia belasan, tak hanya cinta monyet belaka, entah dia gadis yang kupuja menganggapnya begitu. Namun aku menjadi lebih dewasa diusia mudaku hanya karena aku hidup dan berjalan sendiri tanpa arah dan tanpa orang tua dan saudara yang bisa membimbingku dijalan yang seharusnya aku lewati.

Kota kecil dimana aku tumbuh,besar dan jatuh cinta pada pandangan pertama adalah kota kecil dimana malam adalah milikku, aroma arak dan tembakau adalah pelarianku. Kota kecil dimana aku merasa berbeda, dan tanpa pernah kusadari telah membentuk watak dan jiwaku menjadi "petarung jalanan" yang terasing diantara normalnya kehidupan manusia lain.

No comments:

Post a Comment